
Oleh: Adnan
Seorang jurnalis dan juga pemerhati kebijakan publik
DIBALIK kebijakan pemerintah yang sangat ambisius terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahirlah janji manis untuk memerangi agar tidak terjadi stunting terutama bagi anak – anak sekolah.
Dalam hal ini muncul keresahan dari Adnan Ewok menilai program MBG yang diluncurkan pemerintah pusat pada awal 2025 di bawah pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), program tersebut menargetkan jutaan siswa dengan nominal anggaran yang sangat fantastis, hingga tahun 2026 ini mencapai kurang lebih Rp 335 triliun.
Adnan Ewok memaparkan, program yang digadang-gadang sebagai investasi sumber daya manusia ini malah dipenuhi kekurangan, diketahui dibeberapa wilayah khususnya Kabupaten Lebak, pengelolaan dapur MBG seperti menu yang tak sesuai standar gizi, pelanggaran terhadap prinsip Isi Piringku jelas terlihat bukan hanya isapan jempol belaka.
“Pengelolaan kualitas bahan baku dan masakan yang sering kali tak layak konsumsi dan makanan yang dirasa tidak memenuhi angka kecukupan gizi, sedangkan sudah di sediakan ahli Gizi yang kompeten di bidang gizi, “papar Adnan Ewok
Ini bukan sekedar cuitan belaka atau sindiran bagi pengelola SPPG, tapi keresahan nyata dari beberapa orang tua siswa diberbagai wilayah yang kerap menyaksikan anaknya menerima makanan setiap hari.
“Sering kali ditemukan, program MBG dengan penyajian menu yang kurangbbahkan tidak seimbang terhadap pemenuhan gizi, saya tergugah ingin bertanya dan menanyakan pada ahli gizi,” kata Adnan Ewok.
Keresahan ini timbul bukan hanya dari diri saya sendiri melainkan diluar sana keresahan yang sama dirasakan orang tua siswa semakin besar ketika melihat menu yang disajikan dan diterima oleh anak-anaknya.
Apakah Prinsip Isi Piringku sudah terpenuhi? Prinsip Isi Piringku sudah sangat jelas menekankan keseimbangan dengan 1/3 sayuran, 1/3 karbohidrat, 1/6 buah, dan 1/6 protein, tapi sering kali prinsip tersebut diabaikan oleh pihak pengelola SPPG.
Secara keseluruhan, menurut Adnan Ewok, meski program MBG memiliki niat baik, namun kekurangan dalam pengelolaan oleh SPPG tentu saja perlu adanya reformasi serta evaluasi mendalam dan menyeluruh di setiap wilayah.
Perbaikan perlu dilakukan agar program tersebut sesuai dengan tujuan yang baik seperti namanya MBG agar tidak hanya sebuah nama saja makanan bergizi gratis (MBG) tapi nyatanya tak sesuai harapan”, keluhnya.
Lebih lanjut, pentingnya evaluasi, bukan sekedar distribusi makanan yang kurang berkualitas saja akan tetapi tanggung jawab pengelola dan profesionalitas seluruh pengelola SPPG serta para pekerja agar hasilnya baik, anak – anak sekolah terpenuhi gizinya,” tandas Adnan Ewok.
Tidak ada komentar