‘Candu’ Membayangi Perilaku Hidup Kita

Enak makananya, besok-besok kita makan ke situ lagi ya. Ilustrasi kalimat tersebut, bisa jadi merupakan gejala candu atau ketergantungan yang disadari atau tidak membayang-bayangi perilaku hidup kita.

Menurut Dr Susan Julius, MD dalam artikel yang dimuat Townsendla berjudul “Perbedaan antara kebiasaan dan kecanduan “. Kecanduan biasanya melibatkan ketergantungan prikologis dan/atau fisik pada zat atau perilaku.

Ketergantungan psikologis mengacu pada keinginan yang kiat dan keterikatan emosional terhadap zat atau aktivitas yang membuat ketagihan. Sedangkan ketergantungan fisik melibatkan pengembangan toleransi dan gejala penarikan diri ketika zat atau peerilaku tersebut dihentikan.

Bedanya kecanduan dan kebiasaan

Apa perbedaan ketergantungan dan kebiasaan?. Keduannya memang ada kesamaan,namun kebiasaan umumnya dianggap sebagai perilaku netral atau tidak berbahaya yang tidak serta merta menimbulkan konsekuensi negatif. Mereka dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Sebaliknya, kecanduan melibatkan perilaku kompulsif dan berbahaya yang mempunyai dampak negatif signifikan terhadap kesejahteraan fisik, mental, dan sosial seseorang. Kecanduan seringkali memerlukan intervensi dan pengobatan profesional untuk mengatasinya.

Menurut dr. Ryu Hasan, siapapun bisa saja kecanduan, terutama jika orang tersebut tidak paham tentang apa yang disebut kecanduan.  Atau ya memang dia sengaja nyandu.  Contoh yang bisa jadi pelajaran adalah kecanduan yang dialami Sigmund Freud. Bedes yang dianggap pinter, tapi ya karena dia belum paham.

Dalam KBBI, kecanduan (berasal dari kata dasar candu) bisa diartikan sebagai kejangkitan akan sesuatu secara berlebihan. Dalam banyak hal, objek yang bisa menimbulkan kecanduan atau rasa candu adalah rokok, alkohol, narkoba, dan lain sebagainya yang bahkan bersifat naluriah seperti seks.

Dalam tingkatan tertentu, kecanduan bisa mengarah pada perasaan obsesi dan keterikatan yang sangat intens. Jika sudah seperti ini, seseorang bisa digolongkan sebagai penderita gangguan mental. 

Kecanduan dalam pandangan pskilogi

Menurut laman American Psychological Association, kecanduan atau rasa candu yang sangat intens berkaitan erat dengan sisi psikologis manusia. Secara umum, ketergantungan atau kecanduan yang dialami manusia bisa diakibatkan oleh keinginan, rasa penasaran, pergaulan, dan obsesi manusia akan sesuatu.

Degan demikian, Kecanduan erat kaitanya dengan perilaku prikologi manusia. Kecanduan juga ada kaitannya dengan psikilogi sosial manusia sebagai individu yang tidak hanya bergantung pada sisi internal, namun juga eksternal. Sehingga hidup kita bisa dibilang akan selalu dalam bayang-bayang ketergantungan.

Kecanduan dalam pandangan bilogi

Bukan hanya psikologis, kecanduan dalam diri manusia juga berkaitan erat dengan sisi biologis, seperti hormon dan genetik. Sebuah makalah ilmiah berjudul “Genes and Addictions” yang diterbitkan oleh Clinical Pharmacology & Therapeutics pada 2009 membuktikan bahwa kecanduan atau ketergantungan bisa didapatkan melalui rangkaian genetika yang ada, di samping gangguan kejiwaan kronis.

Orang-orang dengan variasi gen tertentu, lebih dimungkinkan untuk mengalami kecanduan dalam hal tertentu. Misalnya, orang yang merokok di usia sangat muda, akan lebih mudah kecanduan rokok di masa tuanya akibat kebiasaan dan gen yang sudah terbentuk dari kebiasaan tadi. Dalam studi didapatkan fakta bahwa gen bisa memainkan peran terhadap pecandu nikotin secara intens.

Ragam kecanduan

Kecanduan juga terdapat ragamnnya, bukan hanya narkoba dan alkohol, dalam banyak kasus, seks, game, makanan, film, dan bahkan kekerasan bisa dijadikan objek candu bagi penikmatnya. Hal ini sudah sangat erat kaitannya dengan perilaku dan pikiran yang ada dalam otak manusia. Namun, kecanduan yang parah bisa merusak mental dan psikis seseorang.

Bahkan ada pula kecanduan yang terbilang ekstrim di duania ini, terdapat kasus orang yang kecanduan minum darah manusia, menikmati abu hasil kremasi, menghirup bensin hingga mabuk, atau menikmati kotoran dan air seni. Kecanduan model seperti ini tentu dianggap sangat tabu dan menjijikan.

Namun, semuanya itu nyata, semua objek yang ada dalam lingkungan sosial manusia bisa dijadikan bahan candu bagi manusia itu sendiri. Ini membuktikan, pada titik tertentu, manusia bisa mengembangkan keinginan dan rasa penasarannya menjadi sebuah obsesi dan kecanduan yang sulit dikendalikan.

Uraian diatas, dalam pandangan penulis disimpulkan bahwa dalam berperilaku kita jangan berlebihan. Dalam segala sesuatu kita harus mengukur kadar sebagaimana yang kita butuhkan, bukan mengikuti kehendak hawa nafsu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Artinya : “makanlah, minumlah dan bersedekahlah, pakailah pakaian tanpa bersikap sombong, dan membanggakan diri, tanpa berlebih-lebihan”. (HR. Imam Ahmad bin Hanbal).

Oleh: Galuh Malpiana
Penulis adalah jurnalis warga Lebak


Sumber refrensi:
https://www.townsendla.com/blog/habit-and-addiction
https://twitter.com/ryuhasan/status/995577759958155264?lang=id
https://www.idntimes.com/science/experiment/dahli-anggara/fakta-ilmiah-kecanduan-c1c2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *