Foto Demang Leman/Tangkapan layar/JAKARTA – Pada abad ke-19, perang Banjar pecah. Konflik meletup bentuk gerakan perlawanan rakyat melawan kolonial Belanda yang mencoba menguasai Kalimantan Selatan. Rakyat yang terlibat dalam perlawanan meliputi para bangsawan, ulama, tetuha adat, hingga petani.
Salah satunya adalah Demang Lehman. Namanya tercatat dalam sebagai panglima perang pemberani dari Kalimantan Selatan. Demang Leman lahir di Martapura pada 1832 dengan nama asli Idis, sebelum kemudian dikenal dengan gelar Adhipattie Mangko Nagara atau Adipati Mangkunegara.
Sebagai panglima perang dalam Perang Banjar melawan pemerintah kolonial Belanda, peran Demang Lehman begitu besar. Meski gugur di usia muda, ia dikenang sebagai pejuang yang gigih, bahkan hingga akhir hayatnya menghadapi eksekusi di tiang gantungan.
Demang Lehman mulanya adalah panakawan atau ajudan dari Pangeran Hidayatullah II sejak 1857. Gelar Demang dalam tradisi Banjar merujuk pada pejabat yang memimpin sebuah lalawangan atau distrik dalam Kesultanan Banjar. Dalam perjalanan sejarah, ia kemudian menjadi tangan kanan Pangeran Antasari dan dipercaya memimpin perlawanan di berbagai daerah. Baca juga: Siapa Pemilik PT IMIP yang Mengoperasikan Bandara Privat di Morowali? Keberaniannya membuatnya disegani baik oleh kawan maupun lawan.
Pada 30 Agustus 1859, Demang Lehman memimpin 3.000 pasukan menyerang Keraton Bumi Selamat yang saat itu dikuasai Belanda. Serangan tersebut hampir menewaskan Letnan Kolonel Boon Ostade, meski akhirnya gagal karena Belanda sedang melakukan inspeksi persenjataan. Tak berhenti di situ, Demang Lehman berhasil merebut Benteng Tabanio dari tangan Belanda.
Pertempuran berlangsung sengit, bahkan saat Letnan Laut Kronental memimpin serangan balasan, sembilan tentara Belanda tewas dan sisanya terpaksa mundur. Belanda kembali melancarkan serangan kedua dengan dukungan angkatan laut dan persenjataan lengkap.
Namun Demang Lehman bersama Kiai Langlang dan Penghulu Haji Buyasin kembali berhasil mempertahankan benteng tersebut. Pertempuran sengit membuat kedua pihak menderita banyak korban. Tipu muslihat Belanda
Dalam situasi itu, Demang Lehman akhirnya tertangkap dan dibawa keluar benteng. Belanda kemudian menggunakan tipu muslihat. Pangeran Hidayatullah dipaksa menandatangani kontrak perjanjian yang merugikan, termasuk pengasingannya ke Pulau Jawa.
Pada Februari 1862, Demang Lehman menghimpun kekuatan untuk menyelamatkan Pangeran Hidayatullah. Upaya ini sempat berhasil, tetapi sang pangeran kembali ditangkap dan akhirnya diasingkan ke Cianjur.
Meskipun demikian, Demang Lehman terus melancarkan serangan ke pos-pos Belanda. Hingga akhirnya, pada 1863, ia kembali tertangkap di daerah Batu Licin. Demang Lehman ditangkap selepas shalat subuh dan dibawa ke Martapura.
Pada 27 Februari 1864, Pengadilan Militer Belanda menjatuhkan hukuman gantung kepadanya. Ia menjalani eksekusi pada usia 32 tahun.
Demang Lehman dikenang sebagai pejuang yang tidak pernah menyerah terhadap penjajah. Meski menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar, ia tetap memimpin perlawanan hingga akhir hayat.
Kisahnya menjadi bagian penting dari sejarah perlawanan rakyat Banjar terhadap kolonialisme, sekaligus simbol keteguhan hati seorang pejuang yang rela mengorbankan nyawanya demi tanah air. (*)
Sumber: Kompas.com
Tidak ada komentar