ilustrasiDALAM konteks pandangan psikologi dan filosofis, menyendiri (solitude) merupakan kebutuhan (loner) bagi individu tertentu manusia. Menyendiri bagian dari metode pemenuhan kreativitas, spiritual atau refleksi diri. Namu demikian, pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial yang egaliter.
Manusia yang cenderung membutuhkan waktu sendiri, bukan selalu berarti kesepian. Sebab, menyendiri sangat berbeda dengan kesepian, di mana menyendiri memang sewaktu-waktu dibutuhkan oleh manusia.
Di Negara Jepang, kita mungkin pernah mendengar istilah Hikikomori sebuah kasus fenomena sosial ekstrem. Di mana, seseorang menarik diri sepenuhnya dari masyarakat dan mengurung diri di rumah atau kamar selama lebih dari enam bulan. Para pengidapnya menghindari interaksi sosial, seperti sekolah, pekerjaan dan lainnya. Dalam pandangan psikologis, itu dipicu oleh tekanan sosial, depresi, atau faktor lingkungan.
Hikikomori bukanlah kategori kebutuhan mental individu. Melainkan fase gejala penyakit gangguan kesehatan mental, dan itu berbahaya. Menyendiri tak serta merta berada diruang kosong. Menyendiri perlu keterampilan, karenanya menyendiri merupakan seni keseimbangan mental.
Dalam Agama Islam, menyendiri adalah Tafakur. Tafakur dalam Islam adalahbagian dari ibadah perenungan, memikirkan, dan menghayati tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tafakur adalah salah satu refleksi dari keimanan dan meningkatkan rasa syukur. Tafakur juga merupakan ajktivitas akal yang terarah, bukan serampangan berpikir. Hal itu sering dikaitkan dengan dzikir, dan merupakan ciri Ulul Albab (orang berakal). Tafakur juga bagian dari perintah Allah SWT sebagaimana termaktub dalam dalam Al-Qur’an (seperti QS. Ali ‘Imran: 190-191) dan menyebutnya sebagai ciri orang berakal.(*)
Tidak ada komentar