Keistimewaan Ikhlas dalam Akulturasi Psikologis

Chanel Banten – “Keyakinan itu panah, sementara sabar dan ikhlas adalah perisai atas ketidak berdayamu” –Galuh Malpiana-. Frasa ini dipilih sebagai prolog dalam tulisan saya untuk memahami makna dan metode Ikhlas dalam perspektif psikologi.

Sebelum memasuki pembahasan tentang makna dan metode ikhlas dalam perspektif psikologi, saya ingin terlebih dahulu menjelaskan filosofi frasa yang saya tulis dalam prolog pada tulisan ini. Makna filosofi frasa dalam prolog diatas, yaitu sikap optmisme dan kepasrahan seorang hamba kepada Tuhannya.

Baca juga: ‘Kabut” Retribusi dan Kilau Pasar Subuh “Jalur Sutra” PKL

Dalam tulisan ini, topik yang saya akan ulas yaitu soal ikhlas yang merupakan salah satu kata yang ada dalam kalimat frasa pada prolog diatas. Topik ikhlas saya pilih karena dalam pandangan saya, kata ikhlas ini sangat memiliki keistimewaan.  

Selain memiliki keistimewaan, kata ikhlas menurut pandangan saya memiliki akulturasi makna spiritual. Sehingga kata ikhlas sangat menarik untuk dipahami tidak hanya sebatas dalam konteks bahasa namun juga aspek psikologisnya.

Pengertian Ikhlas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Ikhlas diartikan sebagai: hati yang bersih (kejujuran); tulus hati (ketulusan hati) dan kerelaan. Dalam beberapa literatur bahasa, dan bahkan pendapat dari sejumlah ahli, kata ikhlas memiliki beragam makna atau definisi.

Dalam bahasa Arab kata ikhlas memiliki arti “sungguh-sungguh” atau “dengan tulus”. Dalam konteks agama Islam, ikhlas sering kali diartikan sebagai keikhlasan hati dalam beribadah kepada Allah SWT tanpa mengharap pujian atau penghargaan dari manusia.

Baca juga: JB Tinggalkan PDI Perjuangan, Pilpres 2024 Dukung Prabowo-Gibran

Saking istimewannya, kata ikhlas juga termuat dalam Alquran Surat Saba Ayat 46: Dimana, Allah SWT meminta manusia untuk selalu berusaha Ikhlas.

Katakanlah, “Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (QS 34:46).

Pengertian kata ikhlas juga diutarakan para ahli, salah satunya seperti Hamka (1983: 95). Ia berpendapat, bahwa ikhlas memiliki makna bersih dan tidak ada campuran.ibarat emas, ikhlas adalah emas yang tulen, tidak ada campuran perak sedikit pun. 

Ikhlas dalam persfektif psikologi

Kata ikhlas bagi saya sangat menarik untuk disingkap. Tak hanya sebatas dalam konteks makna atau definisi, namun juga dari aspek psikologi. Ikhlas menurut saya memiliki peran penting dalam aspek psikologi dan pengendalian emosi. Secara umum, emosi dalam psikologi dipahami sebagai pola reaksi kompleks yang melibatkan pengalaman, prilaku dan fisiologis, yang digunakan untuk menangani masalah atau peristiwa penting yang dialami individu.

Baca juga: Pesan Sekda Pandeglang Ke Pjs Kades: Kawal Program Pembangunan yang Sudah Direncanakan

Memahami ikhlas tidak hanya sebatas dalam konteks bahasa serta definisi semata. Namun kata ikhlas menurut saya memiliki eksotisme dalam membangun ruang spiritual melalui metode akulturasi psikilogi. Ikhlas dalam akulturasi psikilogi bisa membentuk karakter personal yang fleksible dan kuat secara mental dalam menjalani kehidupan. Ikhlas bukan hanya sebatas defenisi yang telah banyak diurakan diatas.

Keistimewaan ikhlas tidak hanya manipestasi spiritual, ikhlas merupakan konsep sosial inplementasi kerukunan atau ukuwah islamiyah. Karena sebagaimana pendapat psikolog, Irma Gustiana, ikhlas dari kacamata psikologi memiliki dua persepktif, yaitu hubungan dengan Tuhan (transendensi) dan hubungan dengan diri sendiri (personal). (sumber:suara.com).

Filosofi ikhlas

Dalam perspektif pandangan filosofi saya, ikhlas merupakan bahasa Tuhan mengisyaratkan bahwa manusia sungguh tak memiliki daya dan upaya, segala hal yang telah terjadi, baik itu yang diharapkan atau tidak diharapkan merupakan suatu langkah dari kehendak Tuhan sebagai sang pencipta. Selain itu, setiap kehidupan pasti dihadapkan pada situasi sulit. baik musibah maupun permasalahan. Sehingga sebagai hamba yang tak memiliki daya dan upaya, maka harus menerimanya dengan keadaan yang ikhlas.

Baca juga: Menakar Kebijakan E-Parking Pasar Rangkasbitung

Begitu juga filosofi ikhlas dalam konsep psikologi yang bersipat pada emosi dan mental, sehingga butuh untuk dikendalikan dengan cara berkesadaran. Filosofi ikhlas dalam pendangan pendakwah kondang Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, menyebut filosofi ikhlas bak jantung dan matahri, karena mereka selalu memberi manfaat tanpa menampakkan diri dan tidak mengharap kembali. (sumber: farah.id).

Memahami filosofi dan konsep ikhlas juga bisa ditemukan dalam kontek kehidupan sosial masyarakat. Bahkan, konsep ikhlas dalam Islam sesungguhnya sudah dicontohkan dalam sejarah Nabi Ibrahim AS, yang kini dikenal dengan ibadah qurban setiap tahunya pada hari Raya Idul Adha.

Tidak hanya itu, ikhlas juga dikenal dalam filosofi jawa, yaitu “Nrimo Ing Pandum”, dengan arti keikhlasan, ketulusan, kebesaran hari dengan menerima segala kenyataan yang telah terjadi dalam setiap kehidupan.

Oleh: Galuh Malpiana
Penulis adalah jurnalis warga Lebak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *