oleh

Soal Proyek Drainase Ratusan Juta di Kaduagung Timur Diduga Asal-asalan, Aktivis KPKB: Pengawasan Lemah!

CHANEL BANTEN – Aktivis Kumpulan Pemantau Korupsi Banten (KPKB) menyoroti adanya ketidak beresan proyek pembangunan drainase Dinas perumahan dan kawasan pemukiman (Perkim) Banten di Kabupaten Lebak.

Menurut dia, ketidak beresan pembangunan proyek yang didanai Rp 189.470. 000.00 dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Banten tahun 2022 itu, diduga dikerjakan asal-asalan.

Proyek itu dikerjakan CV. Dua Bintang Sejati. Lokasinya berada di Desa Kaduagung Timur, Kecamatan Cibadak.

Baca juga: Proyek Drainase Ratusan Jutaan di Kaduagung Timur Dikerjakan Asal-asalan, Warga Ngeluh Saluran Air Mandek

“Ini membuktikan pengawasan yang lemah dan perencanaan kontruksi yang kurang matang,” kata Ketua Umum KPKB, Dede Mulyana kepada Chanel Banten, Selasa 28 Juni 2022.

Menurut dia, pembangunan seyogyanya harus membawa dampak positif bagi masyarakat. Bukan sebaliknya, pembangunan kontruksi malah terkesan asal-asalan, sehingga tidak berdampak positif bagi masyarakat.

“Perencanaan kontruksinya seperti apa?, harus matang. Pihak dinas seharusnya turun tangan dan melakukan pengawasan agar proses pembangunan maksimal. Jangan ada kesan menggugurkan kewajiban menyerap anggaran, sedangkan manfaatnya tidak ada untuk masyarakat,” kata Dede.

Sebelumnya, pantauan Chanel Banten,
dilapangan panjang proyek drainase itu diperkirakan sekitar 300 meter. Hanya saja dalam papan informasi proyek, tidak disebutkan volume pengerjaan. Di lokasi tak nampak adanya celah atau lubang masuk air dari jalan menuju saluran beton berlubang atau u-ditch. Selain itu air yang sudah masuk dalam drainase tidak ada jalan keluar ke titik pembuangan akhir. Akibatnya, air menggenang di dalam u-ditch atau tidak mengalir.

Baca juga: Anggaran Miliyaran Warga Minta Evaluasi Proyek Preservasi Jalan Nasional Wilayah II Propinsi Banten

Salah satu warga yang namanya minta dirahasiakan menyebut, jika pembangunan drainase itu terkesan sia sia. Sebab, hasil pembangunannya dinilai asal-asalan.

“Air nggak mengalir alias mandek. Kalau seperti itu, justru malah rawan banjir dan jadi sarang nyamuk,” kata warga tersebut.

Selain itu, warga juga mengeluh karena pihak pelaksana proyek tidak membersihkan material tanah bekas pembuatan drainase itu. Akibatnya, sepanjang saluran drainase banyak menumpuk tanah bekas galian.

“Bukannya rapih, kok ini kesanya malah jadi kumuh. Bagaimana sih ini pengerjaannya,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, wartawan masih terus berupaya meminta konfirmasi ke pihak-pihak terkait lainnya.

(Cecep Casmadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *