oleh

Kualitas Bibit Buruk, Program Hutan Rakyat DLHK Banten Diduga Bermasalah

CHANEL BANTEN – Program bantuan pengembangan hutan rakyat jenis tanaman sengon (paraserianthes palcataria) di Kabupaten Lebak, menyisakan masalah.

Sebab, kualitas bibit yang diterima dua kelompok tani (Poktan) itu dalam kondisi buruk, sehingga sulit untuk ditanam.

Baca juga: Apresiasi Pasar Tani di Lebak, Ketua Kadin Banten Amal: UMKM Perlu Dikembangkan

Salah satu aktivis di Lebak dari Organisasi Jaringan relawan untuk masyarakat (Jarum), Iis Iskandar menduga, program pengembangan hutan rakyat bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) melalui Dinas Lingkungan hidup dan kehutanan (DLHK) tahun 2021, bermasalah.

“Diduga bermasalah, karena dilapangan kami menemukan indikasi Calon Petani Calon Lahan (CPCL) seluas 20 hektare meragukan atau tidak ada kesesuaian fakta dilapangan,” ujarnya Iis Iskandar kepada Chanel Banten, Senin 24 Januari 2022.

Selain itu, kata dia, kondisi bibit yang dikirim sebanyak 15.000 batang sangat buruk. Jumlah bibit yang dikirim dengan nilai anggaran juga tidak sesuai dengan fakta dilapangan.

“Jika dikalkulasikan dengan harga spesifikasi Rp 2.000 / batang, dengan jumlah yang dikirim 15.000 ke kelompok tani. Maka, jika dihitung hanya menghabiskan Rp 30 juta. Sementara, total anggarannya mencapai Rp 105 juta, kemana sisanya?,” ujarnya.

Sementara, ditempat terpisah salah satu Ketua kelompok tani Walini Bakti, Desa Candi, Udin mengakui, bibit sengon ditanam banyak yang gagal. Hal itu disebabkan, saat dikirim bibit ditumpuk, sehingga rentan tingkat kematiannya.

Ditanya soal anggaran per kelompok tani yang diterimanya, ia menyebut, sekitar Rp 105 juta. Dana sebesar itu, digunakan untuk membeli bibit sengon sebanyak 13.500 batang, dan ditambah 1.500 batang.

Baca juga: Kerugian Akibat Gempa di Lebak Ditaksir Rp 5 Miliar

“Jadi totalnya sekitar 15.000 batang kami terima. Kalau harga perbatangnya Rp 1.700,” katanya.

Dikonfirmasi terkait hal itu, Camat Curugbitung, Endang Subrata mengaku tidak mengetahui jika salah satu stafnya mendapatkan program pengembangan hutan.

“Tidak tahu, lagian tidak ada tembusan ke Kecamatan,” ujarnya.

(Cecep M. Casmadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar