oleh

Ini Perbedaan Perayaan Hingga Sebutan Hari Raya Idulfitri di Beberapa Negara

Ilustrasi foto: jalandamai.org
Umat muslim bersalam-salam seusai melaksanakan shalat Idulfitri atau IED. Tradisi salaman atau bermaaf-maafan lazim dilakukan umat muslim di Indonesia.

CHANELBANTEN.com – Tradisi perayaan hari Raya Idulfitri di sejumlah negara memiliki perbedaan yang cukup beragam. Selain itu, di beberapa negara juga memiliki perbedaan dalam pengucapan atau sebutan Hari Raya Idulfitri.

Seperti apa perbedaannya?, simak ulasan Chanel Banten.com, seperti dilansir dari laman Wikipedia.

Di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam memiliki sebutan yang hampir sama. Dimana Idulfitri dikenal dengan sebutan Hari Raya Puasa, Hari Raya Aidilfitri atau Hari Raya Fitrah.

Perayaanya pun hampir sama, misalnya malam sebelum perayaan selalu diteriakkan takbir di mesjid ataupun musala, yang mengungkapkan kemenangan dan kebesaran Allah SWT.

Masyarakat di 4 (empat) negara itu, biasanya saling mengucapkan “Selamat Hari Raya” atau “Salam Aidilfitri” dan “Maaf lahir dan Batin” sebagai ungkapan permohonan maaf kepada sesama.

Baca juga: Cegah Tindak Kejahatan di Bulan Ramadan, Polres Lebak Gencar Partoli Malam

Bahkan di empat negara itu, memiliki kesamaan tradisi tradisi balik kampung atau mudik. Termasuk kesamaan tradisi pemberian uang oleh para orang tua kepada anak-anak atau disebut duit raya.

Sementara, di Bangladesh, India, dan Pakistan, malam sebelum Idulfitri disebut Chand Raat, atau malam bulan. Orang-orang mengunjungi berbagai bazar dan mal untuk berbelanja, dengan keluarga dan anak-anak mereka. Para perempuan, terutama yang muda, sering kali satu sama lain mengecat tangan mereka dengan bahan tradisional henna dan serta memakai rantai yang warna-warni.

Cara yang paling populer di Asia Selatan selama perayaan Idulfitri adalah dengan mengucapkan Eid Mubarak kepada yang lain. Anak-anak didorong untuk menyambut para orang tua. Di dalam penyambutan ini, mereka juga berharap untuk memperoleh uang, yang disebut Eidi, dari para orang tua.

Di Bangladesh, India, dan Pakistan, banyak dilakukan bazar, sebagai puncak Idulfitri. Sebagian muslim juga memanfaatkan perayaan ini untuk mendistribusikan zakat mal, zakat atas kekayaannya, kepada orang-orang miskin.

Di Arab Saudi, tepatnya di Riyadh, umat Islam mendekorasi rumah saat Idulfitri tiba. Sejumlah perayaan digelar seperti pergelaran teater, pembacaan puisi, parade, dan sebagainya. Soal menu lebaran, umat Islam di sana menyantap daging domba yang dicampur nasi dan sayuran tradisional. Hal ini juga terjadi di Sudan, Suriah, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya.

Baca juga: Gapensi Lebak ‘Tebar Kebaikan di Bulan Ramadan’, Berikan Santunan Hingga Bagi-bagi Sembako

Sementara di Tiongkok, tepatnya di Xinjiang, perayaan lebaran justru tampak meriah. Kaum pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, sementara wanita memakai baju hangat dan kerudung setengah tutup. Seusai salat Idulfitri, kemudian melaksanakan silaturahmi dan makan-makan di rumah keluarga maupun tetangga.

Namun, Lebaran di negara Iran justru kurang semarak. Hal itu karena mayoritas umat Islam di sana adalah pengikut ajaran Syiah. Setelah salat Idulfitri di masjid atau lapangan, mereka cukup melanjutkannya dengan acara silaturahmi bersama keluarga dan ditutup dengan acara pemberian makanan dari keluarga kaya kepada yang kurang mampu.

Beralih ke Eropa , di sana perayaan Idulfitri tidak dilakukan dengan begitu semarak. Di Inggris misalnya, Idulfitri tidak diperingati sebagai hari libur nasional. Kaum muslimin di Inggris harus mencari informasi tentang hari Idulfitri. Biasanya, informasi ini didapat dari Islamic Centre terdekat atau dari milis Islam. Idulfitri dirayakan secara sederhana di Inggris. Khotbah disampaikan oleh imam masjid setempat, dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Biasanya di satu kawasan dimana terdapat banyak kaum muslimin di sana, kantor-kantor dan beberapa sekolah di kawasan tersebut akan memberikan satu hari libur untuk kaum muslimin. Untuk menentukan hari Idulfitri sendiri, para ulama dan para ahli agama Islam sering mengadakan hisab dan rukyat untuk menentukan hari raya Idulfitri.

Di Turki, Idulfitri dikenal dengan sebutan Bayram (dari bahasa Turki). Biasanya setiap orang akan saling mengucapkan “Bayramınız Kutlu Olsun”, “Mutlu Bayramlar”, atau “Bayramınız Mübarek Olsun”. Pada saat Idulfitri, masyarakat biasanya menggunakan pakaian terbaik mereka (dikenal sebagai Bayramlik) dan saling kunjung mengunjungi ketempat orang-orang yang mereka kasihi, seperti keluarga, tetangga, dan teman-teman mereka serta menziarahi kuburan keluarganya yang telah tiada.

Baca juga: Antisipasi Kenaikan Harga Jelang Ramadan, Disperindag Siapkan Operasi Pasar Murah, Catat Tanggalnya

Pada masa itu, orang yang lebih muda akan mencium tangan kanan mereka yang lebih tua dan menempatkannya di dahi mereka selagi mengucapkan salam Bayram. Para anak-anak kecil juga biasa mendatangi rumah-rumah disekitar lingkungannya untuk mengucapkan salam, dimana mereka biasanya diberikan permen, cokelat, permen tradisional seperti Baklava dan Lokum, atau sejumlah kecil uang.

Berbeda dengan di Amerika Utara , umat muslim disana pada umumnya merayakan Idulfitri dengan cara yang tenang dan khidmat. Karena penetapan hari raya bergantung pada peninjauan bulan. Sering kali banyak masyarakat tidak sadar bahwa hari berikutnya sudah Idulfitri. Masyarakat menggunakan metode yang berbeda untuk menentukan penghujung Ramadan dan permulaan Syawal. Orang Amerika Utara yang berada di wilayah timur bisa jadi merayakan Idulfitri pada hari yang berbeda dibanding mereka yang di wilayah barat. Pada umumnya, penghujung Ramadan diumumkan melalui surel, situs web, atau melalui sambungan telepon.

Umumnya, keluarga muslim di Barat akan bangun sangat pagi sekali untuk menyiapkan makanan kecil. Setiap orang didorong untuk berpakaian formal dan baru. Banyak keluarga-keluarga yang memakai pakaian tradisional dari negara mereka, karena kebanyakan muslim di sana adalah imigran. Selanjutnya mereka akan pergi ke majelis yang paling dekat untuk salat. Salat itu bisa diadakan di masjid setempat, ruang pertemuan hotel, gelanggang, ataupun stadion lokal.

Muslim di Amerika Utara juga merayakan Idulfitri dengan cara saling memberi dan menerima hadiah kepada keluarga.

Penulis: Galuh Malpiana l Editor: Yudha
Sumber: wikipedia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed