oleh

Menristek Paparkan Lima Prioritas Riset Nasional Energi Baru Terbarukan, Apa Saja itu?

CHANELBANTEN.com – Kementrian riset dan teknologi (Kemenrisetnek) telah mencanangkan beberapa kegiatan terkait energi baru dan terbarukan di dalam prioritas riset nasional 2020-2024.

Inovasi dan kesiapan teknologi tersebut, sangat dibutuhkan untuk bisa memastikan ketersediaan energi sekaligus mengubah komposisi energi nasional menjadi lebih condong pada energi baru terbarukan.

“Target akhirnya nanti pada 2024, kita bisa mendapatkan peningkatan dari energi baru terbarukan dalam energi mix nasional,” ujar Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro dikutip dilaman presidenri.go.id, Kamis, 22 April 2021.

Ia mengatakan, ada lima kegiatan utama di dalam prioritas riset nasional yang terkait dengan energi baru dan terbarukan itu. Pertama, bahan bakar nabati yang berasal dari kelapa sawit, dimana idenya adalah Indonesia bisa menghasilkan bahan bakar, baik bensin, diesel dan avtur, 100 persen berasal dari bahan baku kelapa sawit.

“Saat ini dengan menggunakan katalis yang dikembangkan di ITB, kita sudah melakukan uji coba di kilang Pertamina. Sehingga, harapannya tidak lama lagi kita bisa masuk pada skala produksi. Tujuan akhirnya adalah untuk bisa kita mengurangi impor dari BBM itu sendiri,” jelasnya.

Kedua, biogas yang banyak dipakai terutama perkebunan sawit. Biogas ini akan menjadi alternatif yang terbaik untuk penyediaan listrik di tempat-tempat relatif terpencil. Menurut Menristek, saat ini teknologinya sudah dikembangkan di beberapa tempat dan harapannya bisa dipakai secara luas.

Ketiga, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil. Seperti diketahui, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kandungan panas bumi terbesar di dunia. Namun, pemanfaatan panas bumi tersebut masih belum maksimal. Menurut Menristek, salah satu kendalanya adalah nilai investasi yang sangat mahal pada pembangkit dengan skala yang besar.

“Oleh karena itu, kami mengembangkan PLTP skala kecil yang mudah-mudahan bisa dikembangkan di berbagai daerah yang punya kandungan panas bumi sehingga listrik yang dihasilkan akan bermanfaat bagi daerah sekitarnya,” imbuhnya.

Baca juga: Ini Fungsi Kolam Regulasi Nipa-Nipa di Sulawesi Selatan yang Diresmikan Presiden Jokowi

Keempat, baterai listrik. Indonesia tengah mengembangkan baterai litium dan teknologi fast charging untuk keperluan kendaraan listrik, juga teknologi battery swapping. Menristek berharap teknologi tersebut sudah siap dipakai dan dikembangkan ketika kendaraan listrik sudah mulai dipromosikan.

“Dengan teknologi seperti itu kita harapkan nantinya ketika kendaraan listrik mulai dipromosikan sebagai komitmen kita mengurangi emisi maka teknologi itu sudah siap pakai dan bisa dikembangkan di Indonesia,” katanya.

Kelima, pemerintah tetap menjaga pengembangan teknologi nuklir. Menristek memandang, bagaimanapun Indonesia harus memastikan listrik yang memadai ketika Indonesia ekonominya semakin tumbuh ke depannya.

“Untuk memastikan listrik memadai tentunya kita pada satu sisi kita harus comply pada Paris Agreement. Bagaimanapun kesiapan teknologi nuklir harus terus dijaga, terutama dari unsur keselamatannya baik lokasi maupun teknologi yang menjamin keselamatan dari teknologi nuklir tersebut,” jelasnya.

Penulis : G Malpiana
Editor : Redaksi
Sumber : presidenri.go.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *