oleh

Ini Arti Nama Pantai Sawarna di Lebak dan Kisah Saudagar Belanda Sang Pembuka Lahan

CHANELBANTEN.com – Hallo traveler, tahu nggak sih, ternyata destinasi pantai Sawarna yang populer di Kabupaten Lebak, Banten memilik arti nama yang cukup unik loh.

Ya, arti kata nama Pantai Sawarna yang menghadap ke Samudra Hindia itu berasal dari bahasa sunda yang dipergunakan oleh suku sunda pedalaman. Kata Sawarna sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu kata Sa – artinya satu dan kata Warna – artinya rupa. Maka arti yang sebenarnya Sawarna adalah Satu Rupa.

Sebutan Sawarna, merupakan sebutan yang sudah tidak asing bagi masyarakat Banten selatan dan bagi masyarakat pemburu atau petualang panorama alam.

Selain memiliki panorama yang indah, pantai Sawarna juga dikenal memiliki gelombang larasnya. Sehingga, pantai itu telah berhasil menarik peselancar dari seluruh dunia, termasuk dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Korea.

Di bawah permukaan air, keindahan Sawarna juga menjadikannya tempat yang sempurna untuk snorkeling. Di sini, kalian dapat menemukan terumbu karang yang paling berwarna dan berbagai spesies ikan tropis.

Beberapa tempat terbaik untuk snorkeling adalah di Pantai Ciantir, Pantai Tanjung Layar, Pantai Karang Bokor, Pantai Karang Seupang, Pantai Karang Taraje, dan Teluk Legon Pari. Selain pantainya yang menakjubkan, Sawarna juga menawarkan petualangan seru dan menakjubkan di beberapa gua spektakulernya, seperti Gua Lalay, Gua Sikadir, Gua Cimaul, Gua Singalong, dan Gua Pasir Tangkil. Gua-gua di Sawarna adalah gua Karst yang terbentuk selama periode Miosen awal.

Secara geograpis daerah Sawarna merupakan daerah pedesaan yang subur, tumbuh berbagai tumbuhan hijau dan berbagai satwa liar yang menghiasi keindahan alam, daerah sawarna terletak di hamparan tanah yang datar berdindingkan pegunungan hutan lindung yang ditumbuhi berbagai jenis pohon tegakan yang kokoh dan semak-semak yang masih belum tersentuh peradaban manusia.

Baca juga : Kemegahan Keraton Kaibon Jejak Pemerintahan Banten, Pintu Keraton Melambangkan Jumlah Shalat Umat Islam

Cuaca yang cukup sejuk nan penuh kedamaian, sungguh sangat wajar di daerah seperti ini dihuni oleh sekelompok masyarakat yang kehidupanya mengandalkan dari hasil bercocok tanam dan petani tradisonal.

Dulu keberadaan masyarakat Desa sawarna sepintas banyak orang mengatakan bahwa masyarakat sawarna adalah mendekati masyarakat yang masih bergaya hidup primitif, hal ini mungkin dilihat dari sisi jarak, dari pusat Ibu Kota Kecamatan yang cukup jauh yaitu 12 Kilomerer, dan dari pusat kota Kabupaten berjarak 100 Kilometer.

Sekedar untuk tambahan pengetahuan sajah, Desa Sawarna konon katanya diambil dari sebuah tempat dimana seseorang pendatang awal bermukim dengan maksud membuka lahan garapan pesawahan yang dia istilahkan lahan Sawarna, sekarang berubah menjadi hamparan pesawahan Lebak Jati.

Saudagar Asal Belanda

Dari berbagai cerita para pendahulu, ada sebagian orang mengatakan bahwa Desa Sawarna konon bermula dari seorang saudagar asal Belanda cukup dikenal dengan nama : Vincent Van Cought Keponakan John Louis Van Gought pelukis.

Sekitar tahun 1920, beliau membuka perkebunan Kelapa seluas 54 Hektar, tepatnya terletak di pinggir Pantai Ciantir dan Tanjung Layar. Saudagar tersebut banyak menggunakan pekerja berasal dari luar Pulau Jawa dikarenakan Pada saat itu kondisi Desa Sawarna masih hutan belantara.

Baca juga : Mengenal Asal Usul Nama Pulo Manuk yang Dihuni Monyet

Seiring perjalanan waktu dan budaya peradaban, juga pertumbuhan penduduk yang secara perlahan sangat mempengaruhi perubahan, sehingga terbentuk komunitas penduduk yang diberinama Sawarna.

Menurut cerita pini sepuh, Vincent Van Cought bahwa selain berusaha sebagai saudagar juga beliau memiliki cita-cita agar tempat usahanya kelak dikenal oleh generasi selanjutnya, tempat yang mereka jadikan tempat usaha menjadi mashur (dikenal oleh banyak orang).

Baik di Dalam maupun di luar Negeri dan terkenal hingga Manca Negara, mereka menamakan lokasi pekebunan dengan sebutan Sawarna. Karena para pekerja pekerbunan berasal dari berbagai suku tentunya akibat dari perbedaan logat, dialek dan bahasa sehari-hari mengakibatkan ada yang mengartikan bahwa Sawarna adalah istilah Basa Sunda yang artinya “Sorana” atau suaranya dalam bahasa Indonesia.

Percaya atau tidak pada kenyataanya, sekarang Desa Sawarna telah menjadi desa yang memiliki suara yang bergaung diseluruh Negeri, apakah ini ada kaitannya dengan cita-cita luhur saudagar Vincent Van Cought atau Pakem pinisepuh dimaksud atau karena proses perubahan lain?. Yang jelas, kini
Desa Sawarna menjadi Desa yang terkenal dan diminati oleh para wisatawan.

Penulis : Redaksi
Sumber : lebakunique.id
Foto ilustrasi : pantainesia.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed