oleh

Kemegahan Keraton Kaibon Jejak Pemerintahan Banten, Pintu Keraton Melambangkan Jumlah Shalat Umat Islam

CHANELBANTEN.com – Jejak sejarah peradaban Banten hingga kini masih tersisa dan berdiri kokoh. Salah satunya adalah bangunan Keraton Kaibon yang merupakan bagian dari simbol pemerintahan dan peradaban Banten.

Melansir dari dispar.bantenprov.go.id berikut sekilas sejarah Keraton Kaibon Banten.

Keraton Kaibon mulai dibangun sejak tahun1815, keraton itu merupakan keraton tertua kedua di Banten setelah Keraton Surosowan yang notabene merupakan pusat pemerintahan kala itu. namun bangunannya hancur akibat adanya peperangan dengan Belanda pada tahun 1832.

Baca juga : Mengenal Asal Usul Nama Pulo Manuk yang Dihuni Monyet

Keraton Kaibon juga cukup menarik untuk didatangi. walaupun bangunan-bangunan yang berada disini sudah tidak utuh lagi, namun keraton ini menampilkan pemandangan bangunan kuno yang khas dan unik serta dikelilingi area padang rumput yang membuatnya seakan sangat alami.

Bagian depan keraton dibatasi gerbang yang memiliki 5 pintu, memiliki makna jumlah salat dalam satu hari yang dilakukan umat muslim. Sementara di ruang utama, ada kamar tidur kembang kerajaan, Bangunan ini sebenarnya adalah istana atau keraton tempat tinggal dari Ratu Aisyah, ibu dari Sultan Syaifudin yang pada saat itu memimpin kerajaan pada usia yang sangat muda.. Keraton yang memiliki luas sekitar 4 hektar ini terletak di Kasunyatan, Serang City, Banten.

Keraton Surosowan
Keraton Surosowan yang berada di area Kota Tua Banten, bangunan keraton diperkirakan dibangun antara tahun 1526 sampai 1570 oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Keraton Surosowan berfungsi juga sebagai tempat tinggal sultan beserta keluarga dan pengikutnya. Keraton ini juga menjadi pusat kerajaan dalam menjalankan pemerintahan Kerajaan Banten.

Keraton ini memiliki ukuran sampai 3.5 hektare, Letak keraton berada di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kawasan Banten Lama, tepatnya berada di 14 km ke utara dari Kota Serang. Namun benteng ini sudah dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1680 dan dihancurkan kembali pada masa pemerintahan Daendels di tahun 1813.

Keraton ini tidak kalah menarik untuk dikunjungi meskipun sudah hancur dan berupa sisa-sisa peninggalan bangunan saja, serta masih terdapat beberapa tembok-tembok bangunannya yang utuh, dan dalam keadaan yang bagus.

Sumber lain : oran-jakarta.com

Penulis : Mufin
Editor : Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed